Wilayah Maluku Utara dan sekitarnya pada awal November 2025 diprediksi dilanda cuaca buruk hingga Januari 2026. Warga bantaran sungai diingatkan untuk waspada ancaman banjir longsor.
Ternate, Pijarpena.id
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas II Babullah Ternate mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap adanya ancaman cuaca buruk yang diperkirakan akan melanda wilayah Maluku Utara (Malut) dan sekitarnya menjelang akhir tahun.
Kondisi ini diprediksi berlangsung sejak awal November 2025 dan mencapai puncaknya pada Januari 2026 mendatang.
Petugas Prakirawan BMKG Ternate, Muhammad Fauzi Bintingan menjelaskan, cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuatorial.
Kedua fenomena ini berperan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian timur termasuk Malut.
“Akibat fenomena ini, potensi peningkatan awan hujan dan cuaca buruk cukup signifikan terutama di wilayah Maluku Utara,” ujar Fauzi, Jumat (31/10/ 2025).
Gelombang ekuatorial sendiri merupakan gelombang fluida geofisika berskala besar yang terperangkap di sekitar wilayah khatulistiwa.
Gelombang ini bergerak dari timur ke barat dan menyebabkan perubahan tekanan, suhu, serta pola angin di atmosfer. Kombinasi antara MJO dan gelombang ekuatorial biasanya memicu intensitas hujan yang lebih tinggi dari kondisi normal.
Fauzi memaparkan, mulai 1 November 2025, wilayah Malut mulai diguyur hujan dengan intensitas ringan.
Adapun beberapa daerah diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat seperti Halmahera Selatan (Pulau Obi), Kepulauan Sula (Pulau Mangoli), Taliabu, Halmahera Timur (Subaim), Ternate, Tidore, Sofifi dan Halmahera Barat.
“Hujan lebat berpotensi terjadi pada 3 November mendatang, dengan intensitas cukup kuat,” katanya.
Untuk wilayah perairan, ketinggian gelombang laut saat ini masih dalam kategori aman, berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter.
Namun, Fauzi mengingatkan agar masyarakat pesisir tetap waspada karena gelombang berpotensi meningkat seiring memburuknya kondisi cuaca.
“Pergerakan angin di Maluku Utara berkisar 10 knot dan bisa meningkat sewaktu-waktu. Peningkatan tinggi gelombang kami prediksi terjadi pada 4 November nanti,” ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan longsor agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.
Pemerintah daerah juga diminta menyiagakan sistem peringatan dini serta memperkuat koordinasi penanganan bencana di tingkat kabupaten dan kota.
“Kami meminta masyarakat dan pemerintah daerah tetap waspada. Menjelang akhir tahun, potensi cuaca buruk dapat menimbulkan berbagai bencana alam,” pungkas Fauzi. (rud/fm)
